Saham BSI Naik Hampir 10 Persen, Ditopang Sentimen Pasar dan Fundamental
Waktu:2026-07-30 06:55:54 Sumber:OlahragaDibaca (143)

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatatkan pertumbuhan saham sebesar 9,77 persen pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (17/7/2026).
Saham BRIS naik 170 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya, ke lebel 1.910. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dibandingkan bank-bank Himpunan Bank milik Negara (Himbara) lainnya.
Investor Relation BSI Rizky Budinanda mengatakan, kenaikan harga saham BRIS sejalan dengan perbaikan sentimen pasar sekaligus ditopang fundamental perseroan yang tetap terjaga.
Menurut dia, kenaikan harga saham BRIS terjadi di tengah mulai kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik setelah sebelumnya mencatatkan aksi jual bersih (net sell) dalam jumlah besar sejak awal tahun.
Pada perdagangan Kamis (16/7/2026), investor asing membukukan pembelian bersih jumbo senilai Rp 1,22 triliun di seluruh pasar, dengan saham-saham perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi incaran utama investor.
Tren ini berlanjut pada sesi pertama Jumat (17/7), di mana investor asing kembali mencatatkan net buy meski dalam jumlah lebih tipis.
Selain didukung sentimen pasar, penguatan saham BRIS juga sejalan dengan kinerja keuangan perseroan yang tetap tumbuh.
Pada kuartal I 2026, BSI membukukan laba bersih Rp 2,2 triliun atau meningkat 17,1 persen secara tahunan. Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh penyaluran pembiayaan yang tumbuh 14,4 persen secara tahunan.
Perseroan juga mencatatkan peningkatan net interest margin (NIM) menjadi 5,6 persen dari 5,3 persen pada periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, beban provisi turun 6,8 persen sehingga turut menopang profitabilitas.
"Dengan kombinasi antara membaiknya sentimen aliran dana asing dan fundamental kinerja yang tetap terjaga, pergerakan saham BRIS hari ini menjadi sinyal bahwa minat pasar terhadap emiten perbankan syariah pelat merah tersebut masih tergolong tinggi, di tengah dinamika pasar modal domestik yang berangsur membaik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (17/7/2026).
Meski mencatat lonjakan tajam pada Jumat kemarin, tambahnya, perlu dicatat bahwa saham BRIS masih berada dalam tren pemulihan setelah mengalami koreksi signifikan dalam setahun terakhir.
Pasalnya, sejumlah analis menilai tekanan biaya dana dan potensi dilusi akibat kewajiban pemenuhan aturan free float minimum tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati investor ke depan.
Sebelumnya: Bocah 6 Tahun Asal Mataram Tewas Tenggelam di Kolam Privat Glamping Kintamani Bali
Selanjutnya: Ada Konser Akbar Monas 2026, Berikut Rekayasa Lalu Lintas di Jalan Medan Merdeka
Mungkin Anda suka
- BPDP: Riset Sawit Jangan Berhenti di Jurnal, Harus Masuk ke Industri
- AS Alihkan 2 Kapal Komersial Coba Terobos Blokade Iran
- Kalender Jawa 20-26 Juli 2026 Lengkap: Cek Weton, Pasaran, dan Neptu Sepekan
- Kronologi Tabrakan Beruntun 6 Kendaraan di Tol JORR
- Harga Tiket Termurah Final Piala Dunia 2026 Spanyol Vs Argentina Tembus Rp 172,7 Juta
- Asosiasi Mitra BGN Curhat di DPR: Ada Keracunan, Kami yang Dianggap Salah
- Mensesneg Ungkap Keppres Calon Jampidsus Kuntadi Selesai Pekan Ini
- Gibran Respons Komentar Guru di IG soal Sekolah Rusak dengan Kunjungan ke Rokan Hilir
- Penegasan Komisi III DPR soal RUU Perampasan Aset Digaspol Pakai Turbo