Memori Ngeri Bencana Lahar Dingin yang Menewaskan 25 Ribu Orang
Waktu:2026-07-30 06:57:25 Sumber:TeknologiDibaca (143)

Tragedi Armero merupakan salah satu bencana paling mengerikan di abad ke-20. Bencana yang dipicu oleh letusan gunung berapi Nevado del Ruiz di Kolombia ini menewaskan 25.000 orang.
Dikutip dari Survei Geologi Amerika Serikat atau United States Geological Survey , Nevado del Ruiz adalah gunung berapi tipe stratovulkan yang memiliki ketinggian 5.389 meter di atas permukaan laut, dengan bagian puncak yang ditutupi oleh gletser atau lapisan es.
Saat itu, Gunung Nevado del Ruiz mulai menunjukkan aktivitas sekitar satu tahun sebelum tragedi terjadi. Reaktivasi ini ditandai dengan munculnya rentetan gempa bumi . Aktivitas keluarnya uap dan gas di kawah puncak juga mulai tampak.
Pada tanggal 11 September 1985, terjadi letusan eksplosif kecil. Setelah letusan kecil ini dan meredanya situasi politik, para pejabat mulai bertemu dengan para ilmuwan untuk membahas potensi bahaya dan rencana evakuasi. Sayangnya, sebagian besar kawasan kota Armero masih terabaikan.
Bencana itu pun terjadi. Pada malam tanggal 13 November, sebagian besar penduduk Armero sudah terlelap tidur. Wali Kota dan pendeta setempat telah meyakinkan warga bahwa mereka aman untuk malam itu. Namun, letusan ini tidak disadari oleh penduduk Armero karena tersamarkan oleh hujan badai yang sedang berlangsung malam itu.
Lahar mengalir deras ke arah utara dan timur melalui lembah-lembah sungai yang dalam di kaki gunung. Banjir lahar mencapai kota Armero sekitar dua jam setelah letusan terjadi. Dalam hitungan menit, kota Armero dihantam dengan dahsyat oleh banjir lahar tersebut.
Sekitar 23.000 orang tewas seketika. Para korban terkubur dalam campuran lumpur dan puing bangunan. Secara keseluruhan, bencana ini menewaskan lebih dari 25.000 orang.
Bencana ini menjadi pelajaran tentang pentingnya komunikasi untuk mitigasi bencana. Hal ini terjadi karena saat itu pemerintah Kolombia sedang teralihkan oleh masalah perang gerilya di Bogota, sehingga situasi ketidakstabilan politik dianggap lebih mendesak daripada aktivitas gunung.
Selain itu, para ilmuwan Kolombia sedang kekurangan peralatan, keahlian, dan dukungan pemerintah untuk memantau aktivitas gunung. Akhirnya, mereka tidak bisa menyampaikan informasi secara efektif.
Sebelumnya: Mendikdasmen Ungkap Terobosan pada 2025: Tunjangan Guru Non-ASN Jadi Rp 2 Juta
Selanjutnya: FIFA Buka Investigasi Keributan Argentina Vs Spanyol di Laga Final, Apa Sanksi yang Mengintai?
Mungkin Anda suka
- DLH Sanksi Pembakar TPS Ilegal di Cikeas, Wajib Bersihkan dan Pulihkan Lahan
- Menteri PU Buka Suara soal Mutasi ASN, Bantah karena Surat Dinas ke AS Bocor
- Kemenhaj Siapkan Payung Hukum Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah
- Memanas! AS Gempur Kota Pembangkit Nuklir Iran
- PBVSI Lepas Timnas Voli Putri Ikuti 2 Turnamen Internasional, Patok Target Realistis
- Mendes Tegaskan Pendapatan KDKMP Akan Dikembalikan 80% buat Warga Desa
- Gempa M 5 Guncang Sukabumi
- 58 Gerai Kopdes di Atas Lahan Sawah Dilindungi, Bupati Banyumas Bingung Mengatasi
- Mendagri Ungkap Strategi Pencegahan Korupsi di Daerah lewat Sistem dan Sikap Integritas